Skip to content

BPPT: Outlook Energi Indonesia 2011

cover outlook

Beberapa waktu terakhir ini, begitu santer terdengar tentang rencana pemerintah yang akan memberlakukan pembatasan BBM bersubsidi mulai 1 April 2012 nanti. Sebagian kalangan mendukung rencana pemerintah tersebut, namun tidak sedikit pula yang meminta pemerintah untuk menundanya.

Terlepas dari polemik tersebut, ada hal dasar yang harus kita sadari yaitu fakta bahwa di saat laju konsumsi BBM kita semakin tinggi, cadangan minyak nasional semakin menurun. Gas ataupun batu bara tak jauh berbeda. Walaupun saat ini produksi keduanya masih melimpah, namun melihat tren yang terjadi, satu waktu ke depan Indonesia akan juga terpaksa mengimpor keduanya.

Baru-baru ini, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), menerbitkan publikasi terbaru mereka, Outlook Energi Indonesia 2011, yang berisikan informasi tentang proyeksi atau tren produksi dan penggunaan energi, kajian penerapan teknologi energi, serta energi alternatif masa depan hingga 2030.

BPPT memproyeksikan, dalam jangka pendek, hingga tahun 2014, kebutuhan energi final mengalami perkembangan dengan laju pertumbuhan sebesar 4% per tahun. Setelah itu, hingga tahun 2014, kebutuhan energi final meningkat dengan laju pertumbuhan sebesar 5.3% per tahun. Total kebutuhan energi final, yang berjumlah 865 Juta SBM pada tahun 2009, akan meningkat menjadi hampir tiga kalinya, yaitu 2,401 Juta SBM pada tahun 2030.

Dari jenis sektor, 44.5% kebutuhan energi final ini berasal dari sektor industri, diikuti oleh sektor transportasi sebanyak 28.1% dan sektor perumahan 14.7%. Sedangkan dari jenis energinya, didominasi oleh BBM sebanyak 35.6%, dan pemakaian listrik sebanyak 22.5%.

Sedangkan untuk penyediaan energi primer, diproyeksikan akan mencapai nilai 3,772 Juta SBM pada tahun 2030, hampir 3.5 kali dibanding tahun 2009, mengalami laju pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 6.1%.

Proyeksi BPPT ini, sama dengan hasil proyeksi dari lembaga energi regional Asia Tenggara, the ASEAN Centre for Energy (ACE) yang pada tahun 2011 lalu menerbitkan the 3rd ASEAN Energy Outlook. Dalam skenario bisnis seperti biasa, diperkirakan konsumsi energi final Indonesia dan penyediaan energi primer naik dalam rentang 3-3.5 kali pada tahun 2030 dibanding tahun 2007.

Namun yang menarik dan perlu digaris-bawahi dari publikasi BPPT adalah BPPT memproyeksikan mulai tahun 2027 Indonesia akan menjadi negara pengimpor energi. Mulai tahun tersebut, produksi energi dalam negeri ditenggarai tidak lagi mampu mencukupi untuk pasokan energi dalam negeri.

Khusus untuk minyak mentah, produksi diperkirakan menurun rata-rata 6.6% per tahun dari 346 juta barel tahun 2009 menjadi 82 juta barel pada tahun 2030. Ekspor minyak mintah diperkirakan akan berakhir tahun 2016. Sedangkan ketergantungan terhadap impor minyak mentah diperkirakan akan terus meningkat mencapai empat kali lipat pada tahun 2030, dibanding impor tahun 2009 sebesar 249 Juta SBM.

Sedangkan konsumsi BBM-nya sendiri pada tahun 2030 diperkirakan mencapai tiga kali lipat dari konsumsi tahun 2009, yang mayoritas dipernuhi dari impor. Tahun lalu diperkirakan nilai subsisi untuk BBM mencapai angka sekitar Rp 160 triliun. Jika kebijakan subsidi terus diterapkan sesuai pola yang ada hingga tahun 2030, maka secara kumulatif diperlukan dana subsidi mencapai 3,000 trilyun Rupiah (undiscounted cost). Suatu jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit.

Outlook BPPT ini, begitu juga dengan Outlook ACE, memang hanyalah sebuah proyeksi dengan berdasarkan beberapa asumsi dasar yang lazimnya berlaku sepanjang tahun proyeksi. Proyeksi ini bisa jadi mendekati benar, atau mungkin berbeda ketika ada hal-hal yang terjadi di tahun mendatang di luar perkiraan awal. Namun informasi proyeksi yang disampaikan, lebih dari cukup untuk kita sadar bahwa energi bukanlah ada tiada batas. Kekayaan energi yang dimiliki bangsa ini saat ini, bukanlah semata untuk kita, namun juga untuk masa depan anak cucu kita nantinya.

Pemerintah bukannya tidak berusaha untuk menggerakkan beragam program untuk meningkatkan pasokan energi nasional ataupun menahan laju konsumsi nasional dengan program konservasi energi dan esiensi energinya. ACE memperkirakan, program konversi bahan bakar akan mampu menghemat 20% konsumsi bahan bakar di sektor transportasi saja.

Namun, kesadaran setiap individu untuk berperan serta tidak bisa dinafikan.

Di saat pemerintah sedang mempersiapkan segala aturan dan infrastruktur untuk rencana pembatasan subsidi BBM 1 April 2012 nanti, terlepas dari kita pro atau kontra, sudah saatnya masing-masing dari kita bijak dalam pemanfaatan BBM.

Memutuskan untuk berhenti memakai kendaraan pribadi lalu memilih transportasi umum, atau memilih untuk cermat saat berkendara dan cermat memelihara kendaraan agar selalu hemat konsumsi bahan bakarnya, konservasi energi atau efisiensi energi, ini saatnya kita tentukan sikap. Mari #SaveEnergy.

One Comment Post a comment
  1. Blogpost: Jika begini terus, Indonesia akan net impor energi mulai 2027. http://t.co/LC7q80Ay @EECCHI Ayo #SaveEnergy

    January 23, 2012

Leave a Reply

You may use basic HTML in your comments. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS