Skip to content

Satu Kelalaian Energi, Milyaran Rupiah Terbuang

Daniel Tambunan, seorang analis energi yang saya kenal cukup dekat pernah berkata, sensitivitas kita terhadap isu perubahan iklim sangat rendah karena kita tidak merasakan perubahannya secara langsung. Coba saja, dalam hitungan satu dua hari, temperatur naik 5 derajat Celcius. Terus seminggu kemudian naik lagi 5 derajat Celcius. Semua orang akan teriak-teriak. Pemerintah, praktisi, akademisi, sampai masyarakat luas semuanya akan langsung satu barisan menghadapi perubahan iklim.

Saya pribadi sepakat dengan Daniel. Dan kalau boleh meminjam istilahnya, saya rasa hal ini pula yang terjadi dengan isu konservasi dan efisiensi energi.

Membiarkan charger yang tidak terpakai tetap terpasang, membiarkan lampu kamar mandi tetap menyala saat tidak digunakan, atau membiarkan TV dalam kondisi stand-by. Kita tahu semua itu adalah bentuk pemborosan energi, tapi seberapa jauh kita memikirkannya.

Di apartemen, selama ini TV saya memang selalu dalam keadaan stand-by saat tidak dinyalakan. Hitungan saya waktu itu, 128 jam setiap minggunya TV dalam keadaan stand-by tidak dinyalakan, namun tetap mengkonsumsi listrik. Berdasarkan asumsi EECCHI, konsumsi listrik saat stand-by adalah 20 Watt. Batas daya apartemen adalah 1,300 VA, maka sesuai TDL 2010, biayanya adalah Rp 790/kWh. Jadi uang yang terbuang sia-sia selama satu bulan adalah adalah 20 Watt x 128 jam/minggu x 4 minggu/bulan x Rp 790/kWh : 1,000 = Rp. 8,089.6/bulan.

Tidak sampai seharga satu jus apel yang bisa saya minum setiap makan siang. Jika ditambah dengan pemborosan yang lain, paling berkisar Rp. 20,000-30,000. Setiap bulannya tagihan listrik (dan termasuk air) cuma antara Rp 75,000-90,000. Nilai yang masih dalam kapasitas saya untuk membayar. Jadi ya selama ini, konservasi energi dan efisiensi tidaklah menjadi perhatian utama.

Beda cerita kalau tiba-tiba tagihan listrik naik lima ratus ratus ribu atau satu juta, menguras kantong.

Kalau sudah begini baru kita mikir betapa borosnya kita. TV dinyalakan saat benar-benar ada acara bagus yang mau ditonton, AC baru dinyalakan saat panasnya tidak cukup lagi ditahan dengan kipas-kipas. Beberapa dari kita mungkin akan turun ke jalan menuntut pemerintah, atau PLN agar bekerja berkali-lipat lebih keras menghasilkan listrik lebih efisien dan harga murah.

Tapi kenyataannya sekarang, pemborosan yang kita lakukan, ada dalam rentang yang begitu mudah kita toleransi. Sama seperti perubahan cuaca, siang ini panasnya luar biasa namun malamnya tiba-tiba hujan deras turun. Berapa banyak di antara kita yang tersadarkan bahwa ini adalah dampak perubahan iklim yang mengancam kehidupan kita? Besok, ketika sejuknya pagi kembali menyapa hampir semua dari kita sudah lupa tentang isu ini.

Bulan ini kita ngomel-ngomel tagihan listrik naik, tetapi pulang ke rumah tak ada perubahan yang berarti dari cara kita memakai energi.

Pemborosan energi, yang jika dikonversi ke dalam rupiah mungkin hanya orde puluhan ribu per orang. Satu contoh kesalahan saya untuk membiarkan TV dalam keadaan stand-by saja, bayangkan jika sepersepuluh saja dari jumlah penduduk Indonesia melakukan pemborosan yang sama, hampir dua ratus milyar rupiah terbuang sia-sia. Bisakah kamu bayangkan betapa borosnya kita?

Oleh karena itu, sejak saat ini, mari bersama, rapatkan barisan, demi masa depan kita, dan anak cucu kita nanti. Terserah kamu, mau lakukan konservasi energi atau efisiensi energi, yang pasti ini saatnya kita #SaveEnergy. :-)

2 Comments Post a comment
  1. Matikan TV dr stop kontak! RT @benisuryadi: membiarkan TV stand-by, 200 milyar terbuang sia-sia? http://t.co/6f2YfeML @EECCHI #SaveEnergy

    January 18, 2012

Trackbacks & Pingbacks

  1. Basmi Vampir Energi, Sekarang!

Leave a Reply

You may use basic HTML in your comments. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS